Tampilkan postingan dengan label bandungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2016

Candi Ngempon

Candi Ngempon

UNGARAN, KOMPAS.com -- Ironis dan menyedihkan. Tanpa perhatian pemerintah, kondisi situs Candi Ngempon yang berada di Lingkungan Ngempon, Bergas, Kabupaten Semarang, saat ini menjadi salah satu lokasi prostitusi yang tergolong ramai. 
contoh makalah artikel
Candi Ngempon
Sejumlah kalangan khawatir jika tidak segera ditertibkan, lama-kelamaan kawasan Candi Ngempon akan berubah menjadi lokalisasi prostitusi. Sebab, di lingkungan situs peninggalan kerajaan Hindu itu tumbuh subur rumah karaoke dan tempat biliar liar.

Bahkan, di kawasan tersebut saat ini dikenal sebagai pangkalan kaum waria dan menjadi ajang mesum remaja yang sedang berpacaran.

“Awalnya hanya satu karaoke saja, lalu bertambah banyak. Kalau malam suasananya ya ramai karena ada karaoke itu. Ada juga kelompok waria yang sering kali nongkrong pada malam hari di sini. Kami tidak tahu aktivitas mereka, setahu kami mereka hanya datang untuk berwisata. Warga sebenarnya terganggu, tetapi tidak bisa melarang karena itu kewenangannya pemerintah,” kata Hidayat (30), salah satu warga, Senin (2/6/2014) pagi.

Kondisi situs Candi Ngempon yang terdiri dari sejumlah candi dan petirtaan (pemandian) air hangat peninggalan kerajaan zaman Hindu tersebut terancam rusak karena adanya karaoke dan biliar membuat sejumlah kelompok pemerhati cagar budaya turun tangan.

Dua kelompok pemerhati cagar budaya dari Paguyuban Pedulu Cagar Budaya Ratu Sima (PPCBRS) Jateng serta Paguyuban Peduli Cagar Budaya dan Alam Semesta Jateng mendesak Pemkab Semarang melakukan tindakan penyelamatan situs Candi Ngempon.

"Kami sudah mendatangi Kantor Dinas P dan K untuk mendesak penyelamatan Candi Ngempon. Kami sudah lihat langsung di lokasi, dan kami mencermati di Ngempon sudah banyak pelanggaran. Sebab, di sekitar petirtaan sudah berdiri sejumlah karaoke dan biliar yang jaraknya sangat dekat dengan situs Candi Ngempon tersebut. Juga jadi tempat nongkrong ‘makhluk jadi-jadian’ (waria). Lama-kelamaan bisa jadi tempat prostitusi,” kata Ketua PPCBRS Jateng, Sutikno, saat dihubungi via telepon.

Aura mesum di lokasi Candi, kata Sutikno, juga dikeluhkan oleh organisasi keagamaan Hindu lantaran mereka masih menggunakan candi tersebut untuk kegiatan keagamaan.

Dia berharap, dengan keluhan dari masyarakat serta umat Hindu tersebut, pemerintah serius melindungi tempat cagar sesuai peruntukannya. “Kalau itu candi ya harusnya jadi wisata religi dan pendidikan, jangan sampai nantinya menjadi wisata syahwat. Kami minta kondisi itu harus segera ditertibkan,” kata Sutikno.
Candi Ngempon atau yang dikenal juga dengan Candi Muncul merupakan salah satu peninggalan dari candi Hindu. Sesuai dengan namanya “Ngempon” yang merupakan nama Desa tempat ditemukannya Candi tersebut yakni di Desa Ngempon Kecamatan Bergas Kabupeten Semarang. 
Lokasi Candi Ngempon yang hanya berjarak kurang lebih 2 KM dari Pasar Karangjati membuat tempat tersebut banyak dikunjungi para wisatawan lokal.
Candi Ngempon memiliki 9 candi namun yang sudah di rekonstruksi oleh pemerintah daerah setempat hanya 4 candi saja. Besar ukuran dari candi-candi tersebut sepintas tampak sama dan hanya satu candi saja yang berukuran lebih besar.
Diyakini disekitar area Candi Ngempon dahulu kala merupakan tempat sebagai pusat penggemblengan para kasta Barahmana yang dididik untuk menjadi sebagai seorang Mpu atau Empu baik dalam bidang olah kanuragan, sastra budaya maupun dalam bidang kerohanian. Karena menilik dari sejarah yang ada maka 9 Candi tersebut dikenal masyarakat dengan sebutan “Ngempon” yang berasal dari kataEmpu atau Ngempu.

Sejarah Candi Ngempon Kabupaten Semarang

Candi Ngempon awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh petani yang bernama Kasri pada tahun 1952. Saat itu Kasri sedang mencangkul bersama kakeknya disawah. Awalnya Kasri hanya menemukan sebuah batu Andesit yang polos dan memiliki ukuran 40m2 tetapi setiap kali melanjutkan dalam mencangkulnya batu-batu Andesit polos semakin banyak lagi ditemukan.
Selain batu-batu Andesit yang ditemukan di Candi Ngempon pada saat itu, ditemukan juga sepuluh buah patung antara lain, patung Dewi Durga, patung Ganesha, Kinara Kinari dan juga patung Nandi dan lain-lain.
Arca-arca tersebut yang telah ditemukan di Candi Ngempon Kecamatan Bergassaat ini disimpan di Museum Ronggowarsito Semarang. Saat pertama kali ditemukan 9 Candi tersebut sudah dalam keadaan tidak tertata atau bubrah karena terkena longsorang tanah dan tertimbun.
Pada tahun 1952 Dinas Purbakala mengunjungi Candi Ngempon yang telah rusak dan menyusun kembali sebuah candi yang telah runtuh tersebut. Dan pada tahun 2006 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah menyusun lagi satu buah candi yang ukurannya lebih kecil cila dibanding dengan candi yang pertama.
Candi Ngempon yang merupakan peninggalan sejarah dari Agama Hindu sampai saat ini sudah diruwat oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia.
Tidak jauh dari lokasi Candi Ngempon juga terdapat Petirtaan Kuno yang berada di Kelurahan Derekan Kabupaten Semarang. Petirtaan Kuno tersebut berupa pemandian air hangat yang sekarang banyak dikunjungi oleh wisatwan lokal terlebih lagi saat menjelang puasa atau yang sering dikenal masyarakat dengan sebutan “Padusan“.

Lokasi atau Rute Menuju Candi Ngempon Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang.

Dari arah Semarang, Ambarawa maupun Salatiga langsung menuju dan berpusat di satu jalur Semarang – Solo atau Semarang – Yogya, berhenti di depan Pasar Karangjati Kabupaten Semarang.
Bersebelahan dengan Pasar Karangjati ada kantor Polsek Karangjati disitu ada pertigaan, yang dari Semarang belok kekiri sedangkan dari Salatiga, Ambarawa belok kekanan. Jalan menuju ke timur atau jalan menuju Pringapus. Setelah 2 KM dari Kantor Polsek Karangjati ada pertigaan dan belok kanan sampai menemukan papan nama Candi Ngempon. Belok kiri dan tidak jauh dari papan nama tersebut ada Gapura Kecil masuk mengikuti jalan cor beton untuk sampai di lokasi Candi Ngempon.
Itulah sedikit tulisan tentang Lokasi Candi Ngempon, Rute menuju Candi Ngempon Semarang, dan sejarah Candi Ngempon Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang.

Profil Desa candi

Profil Desa candi

Desa Candi merupakan bagian dari Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. 
Desa candi terdiri dari 9 dusun yang memiliki nama unik, 
yaitu Kalibendo, Ngonto, Candi, Ngablak, Tarukan, Talun, Nglarangan, Ngipik, dan Darum.
 Memiliki luas wilayah1.082,29 Ha dengan kondisi tanah dataran tinggi pegunungan. 
Penggunaan lahan terbesar adalah Sektor Pertanian sehingga sebagian besar penduduk
 bekerja sebagai petani atau buruh tani.
Desa Candi memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk menjadikan 
Desa Candi sebagai desa wisata, beberapa potensi tersebut antara lain:

   Potensi pariwisata : Candi Gedong Songo, Candi Asu
·         Potensi pertanian : Sayur, Bunga
·         Potensi peternakan : Sapi, Kelinci, Kambing
·         Potensi usaha rumah tangga :

          Onde-onde ketela ungu, Ice Cream ketela ungu, anyaman bambu
·         Potensi kesenian : Reog
kawasan desa candi Rt.04
belakang rumah mbah manten

kawasan desa candi Rt.04
kuwi bapaku


Candi Asu Bandungan


Lokasi Candi ini masih jarang orang yang mengetahuiya, secara persisnya candi ini berada di Dusun Candi 
Desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang. Yang keberadaannya berada di samping
 area pemakaman dusun Dusun. Peninggalan kuno ini akhir - akhir ini mulai diperhatikan oleh pemerintah
 dengan adanya pembangunan di sekitar area Candi.

KKN TIM 1 UNDIP 2015 Di Desa Candi

KKN wajib dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa UNDIP Semarang. Desa Candi menjadi salah satu desa 
di Kecamatan Bandungan yang dijadikan tempat KKN Tim I UNDIP 2015. Tujuan utama yang ingin dicapai oleh 
Tim KKN adalah untuk memajukan Desa Candi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing 
anggota tim dan memecahkan masalah yang ditemui dilapangan. Selain itu juga untuk mengenalkan 
Desa Wisata Candi kedunia luar. Selain memiliki potensi wisata yang menarik, wisata kuliner 
juga warganya yang ramah.
TIM berasal dari berbagai jurusan dari 3 fakultas yaitu Fakultas Teknik, Fakultas Peternakan dan Pertanian,
 dan FISIP. Tiap anggota akan menjalankan masing-masing program kerja sesuai bidang keahliannya,
 selain itu tim juga mengikuti berbagai kegiatan bersama dengan warga.

Anyaman Bambu Untuk Tempat Pisang Dan Bunga

Disalah satu dusun di Desa Candi memiliki potensi kerajinan anyaman bambu. Anyaman bambu
 yang dibuat adalah untuk tempat wadah dari pisang yang biasanya dijual dipasar. Namun disaat
 tertentu seperti bulan Ramadhan diproduksi juga anyaman bambu yang lebih kecil yang digunakan
 sebagai tempat wadah bunga. Biasanya bahan yang digunakan adalah bambu petung, apus dll.
Hasil anyaman akan dipasarkan diluar daerah, dan sudah ada pengepul yang akan mengambilnya.

Bunga Sebagai Oleh-Oleh

Karena mayoritas pekerjaan warga Desa Candi adalah petani sayur dan bunga, maka hasil panen bunga
 dan sayur juga sangat besar. Di Desa Candi sendiri hampir ditiap-tiap dusun memiliki kelompok
 tani sendiri. Bunga yang dihasilkanpun beragam, namun kebanyakan adalah bunga krisan dan
 mawa dan hasil panen akan dikirim keluar wilayah, begitu juga dengan sayur mayurnya.
Terdapat pula tempat pasar bunga yang menyediakan beragam bunga yang tentunya 
bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

Wisata Kuliner Sate Kelinci Di Candi Gedong Songo

Tak lengkap rasanya jika mengunjungi Candi Gedong Songo tanpa terlebih dahulu mencicipi sate kelinci.
Di kawasan objek wisata Candi Gedong Songo banyak kios yang menjadikan sate kelinci 
sebagai hidangan andalan. Peternakan kelinci di 
Desa Candi memang tidak sebesar peternakan yang sapi dan kambing, karena memang peternakan 
di Desa Candi didominasi dengan kambing dan  sapi.

Daging yang digunakan dalam sate kelinci ada yang merupakan hasil ternak sendiri tapi ada
 juga yang mendapatkan kelinci dengan membelinya dipasar. Sate kelinci dapat dinikmati
 bersamaan dengan nasi atau lontong, ditaburi dengan sambal kacang tentu akan menggoyang lidah. 
Seporsi sate kelinci dan nasi biasanya berkisar di harga Rp. 20.000,-.

Aneka Makan Hasil Olahan Ketela Ungu


Desa Candi yang memiliki lahan yang subur dimanfaatkan oleh warga untuk bercocok tanam bunga dan sayur. 
Hasil panen kebanyakan akan dijual keluar wilayah, tapi ada juga yang diolah sendiri oleh warga, 
salah satu contohnya adalah ketela ungu. Hasil bumi yang satu ini telah dikreasikan 
oleh warga menjadi berbagai makanan yang kreatif dan inovatif. Salah satu yang 
melakukan pengolahan adalah Kelompok Pengolahan Hasil Pertanian "Mitra Lestari" 
yang berada di dusun Kalibendo. Beberapa hasil olahan ketela ungu tersebut adalah onde - onde, ice cream dll.
Produk hasil industri rumahan ini biasa dipasarkan di Pasar Sumowono.
Produk makanan menggunakan bahan-bahan yang aman dikonsumsi, dan ketela ungu yang 
digunakan sebagai bahan juga memberikan keunikan tersendiri karena memberikan warna alami pada makanan.

Candi Gedong Songo


Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Candi Gedongsongo, Dusun Darum,
 Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang dan kompleks candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi. 
Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, “Gedong” berarti rumah atau bangunan, “Songo” berarti sembilan. 
Jadi Arti kata Gedongsongo adalah sembilan (kelompok) bangunan. Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng 
Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus 
yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang. Kabut tipis turun dari atas gunung sering
 muncul mengakibatkan mata tidak dapat memandang Candi Gedongsongo dari kejauhan. Candi ini
 memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian
 sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin.  Untuk menuju 
ke Candi Gedong I, kita harus berjalan sejauh 200 meter melalui jalan setapak yang naik.
 Anda bisa memanfaatkan jasa transportasi kuda untuk berwisata mengelilingi obyek wisata Candi Gedongsongo. 
Tahun 1740, Loten menemukan kompleks Candi Gedong Songo. Tahun 1804, Raffles mencatat kompleks 
tersebut dengan nama Gedong Pitoe karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Van Braam 
membuat publikasi pada tahun 1925, Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang
 Gedong Songo pada tahun 1865. Tahun 1908 Van Stein Callenfels melakukan penelitian 
terhadapt kompleks candi dan Knebel melakukan inventarisasi pada tahun 1910-1911.